Minggu, 08 April 2012

Anti Korupsi Artikel

“Aku Bukan Orang Kaya, tapi Orang Diberkati”

Uang, sebagai hal yang sangat diinginkan orang pada saat-saat ini ternyata membuat kekacauan di mana-mana. Karena uang, manusia rela melakukan kriminalitas. Karena uang, manusia rela berbohong, kehilangan harga diri, bahkan kehilangan nyawanya. Karena uang jugalah, dunia kini menjadi berantakan atau tidak teratur lagi.

Permasalahan uang bukanlah hal yang berlaku secara lokal. Akibat adanya globalisasi, kekacauan uang di suatu bangsa, sekecil apapun itu, pasti memberi dampak terhadap dunia. Akan ada perubahan nilai dari setiap mata uang negara dan otomatis harga komoditas pun akan mengalami perubahan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa uang kini menjadi kunci kehidupan dunia karena uang menggerakkan semua aspek hidup manusia.

Bagi kebanyakan orang, uang ditempatkan sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Mereka memiliki mind set (pola pikir) bahwa uang akan menyelesaikan setiap masalah mereka. Motivasi orang-orang seperti ini juga biasanya berbeda saat melakukan suatu tindakan. Mereka tidak akan bertindak bila melihat keuntungan finansial dari tindakan tersebut kecil. Sehingga bisa dikatakan bahwa orang-orang tersebut memiliki hati yang tidak pernah puas bila sekedar mendapat upah atau balik modal. Cara pandang dan sikap hati seperti inilah yang kemudian memunculkan orang-orang sebagai koruptor.

Indonesia, sebagai negara kita, kini mengalami masalah serius terkait kasus korupsi. Indonesia menempati posisi ke-1 dari negara-negara terkorup di Asia Pasifik menurut survei perusahaan konsultan “Political and Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong (2009). Kondisi ini tentu bukanlah hal yang positif bagi Indonesia, terkait dengan masalah-masalah lain yang juga dimiliki bangsa ini. Alangkah lebih baik jika uang yang dikorupsi itu dipakai untuk membereskan masalah-masalah lain, yang mungkin lebih kompleks dan vital bila tidak segera ditangani.

Korupsi adalah masalah, namun bukan akar permasalahan dari masalah. Perlu kita bercermin diri untuk melihat diri kita. Korupsi hanyalah contoh manifestasi dari sikap manusia yang salah. Artinya, akar permasalahan adalah orangnya. Suatu sistem, sekalipun itu adalah suatu sistem yang buruk, bila dijalankan oleh orang yang tepat dan layak, PASTI akan dapat diubah untuk memberi peran yang baik. Sebaliknya, suatu sistem yang baik, bila dijalankan dengan orang yang salah, akan hancur dan tidak akan bekerja sebagaimana mestinya. Demikian jugalah halnya dengan kondisi negara kita. Negara kita memiliki standar dan teori-teori yang bagus. Contoh saja kita lihat dasar negara kita, Pancasila, makna-makna yang dikandung oleh Pancasila merupakan hal-hal yang baik. Namun, mengapa kondisi bangsa ini tidak membaik? Jawabannya adalah orangnya belum tepat. Saya tidak mengatakan bahwa orang-orang yang memegang jabatan sekarang bukanlah orang-orang yang tepat. Bila kita melihat bahwa orang korupsi, kita pasti berpikir, “Ih, kenapa ya orang seperti dia bisa korupsi?. Dia itu kan (misalnya) hakim”. Kita bisa berkata seperti itu karena kita tidak sedang berada di posisinya. Hati kita saat kekurangan, tentu akan berubah saat kita diperhadapkan dengan tumpukan uang.

Jadi, upaya untuk menanggulangi korupsi di Indonesia, bukanlah hanya dengan aturan dan kebijakan. Saya bahkan berani berkata bahwa Indonesia telah memiliki hukum yang terbaik, kita punya politik bebas-aktif, pengakuan HAM, kebebasan bertanggung jawab, demokrasi, dll. Namun, sumber daya manusia kitalah yang harus dibenahi. Jangan terus punya mental karyawan, miliki mental direktur. Seorang direktur akan tetap tenang saat melihat banyak uang, itu adalah hal yang biasa. Mau uang banyak ataupun sedikit, hatinya tetap tenang. Namun, perlu diingat bahwa jabatan dunia kerja tidak menjamin mental seseorang. Sekalipun seseorang menjabat sebagai direktur, belum dapat dipastikan bahwa ia memiliki hati seorang direktur. Sebab itu cek diri kita masing-masing, karena di tangan kitalah hidup mati bangsa ini di kemudian hari. Berhentilah untuk mengejar kekayaan atau predikat orang kaya, kejarlah berkat dan anugerah dengan Tuhan di sampingmu. Jadilah orang diberkati, bukan orang kaya.

By: Samuel Zefanya

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons