Sabtu, 17 Maret 2012

Hidupmu itu bukan hanya untukmu kawan


Cerpen ini sudah saya tulis kurang lebih setahun yang lalu, cerita yang menginspirasikan kita, betapa pentingnya keyakinan kita kepada suatu hal meskipun jiwa ini tidak mendukung sepenuhnya.

Di rumah sederhana yang hanya terbuat dari bambu dan daun kelapa yang tua untuk menutupi panasnya matahari dan air hujan, hidup keluarga yang sederhana. Yapss bapak Josep yang merupakan kepala keluarga di rumah tua itu, badannya yang kurus dan tumbuh rambut putih di hampir semua rambutnya, maklum saja orang tua itu sudah berumur 82 tahun, seorang pemuda di tahun 1942 yang ikut berperang melawan penjajah Jepang.
Hingga kini bekas tanda di tubuhnya yang tak bisa di lupakan ketika dia mempertaruhkan nyawanya demi bangsa Indonesia, ya kakinya yang harus di amputasi karena tertembak beberapa peluru oleh pasukan lawan itu, mungkin sakitnya itu tak lebih besar dari perasaannya yang tak terima bangsanya di tindas oleh bangsa lain. Yang kini perasaan itu mulai sakit kembali tak kala bukan mengingat bangsa Indonesia yang tertindas di zaman dia masih muda dahulu dengan membawa bambu runcing untuk melawan penjajah, melainkan generasi bangsa sekarang yang telah di jajah oleh perasaanya sendiri, perasaan yang membuat keterpurukan, perasaan yang membuat pemuda bangsa ini tidak bisa bergerak untuk mengisi kemerdekaan ini.



Dengan kesesakan hati seorang mantan pejuang ini timbulah sebuah rencana untuk membangun sebuah daerah yang maju, sebuah daerah kritis terhadap masalah, yang hari ini merupakan masalah yang amat amat terbesar bagaikan sampah yang akan semakin menumpuk membentuk sebuah gunung, yah sebuah gunung kemiskinan yang akan semakin terus bertambah.
Sebuah gunung yang berisikan anak-anak kecil di masa pertumbuhannya itu yang akan selalu mencari makan di tempat-tempat orang membuang sisa-sisa makanan, bahkan mereka berebut dengan kucing kampung, memang sangat tak layak bagi seorang anak yang sangat membutuhkan perlindungan, kasih sayang, pendidikan yang baik untuk masa depannya nanti, kesehatan untuk bermain di masa kanak-kanaknya.
Bapak Yosep Sucipto dengan badannya yang membungkuk yang tak kan pernah lupa perjuangannya dulu, dengan doanya yang tulus untuk membentuk bangsa yang baik, sudah sepatutnya seorang bapak tua yang hanya tinggal di kursi goyang dengan kecepatan 10m/s duduk santai melihat cucu-cucunya bermain, berlarian dan tumbuh semakin besar, akan tetapi jiwa bangsanya yang melekat sudah menjadi darah merah dan daging yang tak bisa di lepaskan dari tulang-tulang yang semakin rapuh.



Takut? Malas? Merupakan perasaan yang sangat tersohor dimana-mana, yang mungkin tidak disadari oleh pemuda-pemuda bangsa yang sangat kaya akan sumber buminya. Sebuah virus yang mungkin tidak terdeteksi oleh anti virus mana pun, virus yang akan menggorogoti semua tubuh bagian manapun bahkan hati yang sangat lembut.
Dengan usaha seorang Tua yang selalu memberi dorongan terhadap pemudanya, seorang tua yang selalu memiliki rencana-rencana besar yang melebihi gedung-gedung pencakar langit manapun, timbul ide-ide yang fantastis, ide-ide yang akan memperkerjakan banyak orang sehingga sudah sepatutnya seorang bapak sebagai kepala rumah tangga yang melindungi anaknya dari berbagai macam bahaya, bahaya yang di akibatkan oleh jalan yang berdebu, asap kendaraan yang tak terkendali yang akan merusak tubuh mungilnya, dengan pemikirannya yang polos untuk sesuap makanan di pagi, siang dan malam hari.
Ketekatan pak tua itu terhadap Ide untuk merintis segala hal yang berhubungan dengan usaha peternakan skala kecil , yang mungkin di anggap sebagian besar orang di anggap membuang waktu, dengan nalurinya yang tajam, yang mungkin melebihi tajamnya pisau yang telah terasah sebanyak 23 kali, naluri untuk melihat peluang besar di massa yang akan datang, dengan ketekatan yang luar biasa dengan semangat sisa-sisa tahun 1940 an itu, pak Josep membentuk sebuah team yang terdiri dari 5 keluarga yang mengharapkan keberhasilan proyek ini untuk masa depan anak-anaknya, mereka yang bernama baskoro, tijaya, surip, jayardi dan seorang yang amat-amat miskin diantara ke4 teman lainnya yang bernama sumirep, memiliki keluarga kecil dengan keterbatasan yang hanya mampu memberi makan seadanya bahkan seadanya itu pun sangat jarang di sediakan sehingga perutpun sudah terbiasa tak terisi oleh makanan-makanan untuk masa pertumbuhan anaknya yang malang .
Perjuangan pak tua yang sama beratnya ketika penjajah menyerang dengan senjata yang lengkap melawan bambu runcing, dengan perjuangan untuk membangun bangsa dengan keterpurukannya.




Suatu ketika jerih payahnya terbayar oleh diterimanya proposal pengharapan hidup, lembaran-lembaran yang berisi harapan-harapan 5 keluarga miskin itu, lembaran yang berisi anggaran usaha yang akan di jalankannya, yang di ajukan ke sebuah perusaahan besar milik orang asing, orang asing yang tinggal di Negara yang pernah menjajah bangsa ini, negara yang sangat berpengaruh di dunia, negara dengan teknologinya yang jauh melesat dari negara ini yaps negara Jepang.
Dengan tekat yang penuh terbentuklah usaha peternakan bersama itu dengan jumlah hewan ternak sebanyak 50 ekor. Di bulan pertama, kedua dan ketiga memang masalah selalu ada bahkan hal-hal tersulit sering menjumpai ketika pikiran tak dapat berfungsi dengan baik, suatu hari pak tua itu berkata kepada ke 5 mahluk miskin tersebut katanya” Dengan kandang sederhana ini akan dapat menghidupi berpuluh-puluh keluarga nantinya setelah saya tiada”. Kata pak Baskoro menyela “ bagaimana bisa pak, dengan kandang sederhana mampu membiayai hidup seperti yang bapak bilang, bapak jangan terlalu menghayal gitu, kita ini peternak kecil pak”.
Pemikiran pak tua memang jauh lebih maju bahkan sangat-sangat cepat melesat sehingga sulit di pahami pemikirannya bagi orang-orang kecil seperti pak baskoro, “Pak, bagaimana dengan makanan kambing kita, rumput disekitar sudah tidak ada lagi, sedangkan dana untuk membeli pakan sangat terbatas” kata pak Baskoro, jawab Pak Josep dengan nada yang lemah, seakan hidupnya berumur 2 bulan lagi ” kita pikirkan lagi yah Pak, saya cape sekali, saya mau istirahat dulu” pak Josep kembali ke rumahnya dengan badan gemetar di bantu tongkat yang selalu menemaninya, tongkat yang sangat setia menemaninya yang mungkin lebih setia dari seorang suami yang meninggalkan istri dan anaknya karena perempuan muda, perempuan perawan kaya yang berharap suaminya yang tampan. Sekian lama keadaan tempat itu cukup panas dengan keadaan lingkungan yang sangat kering sehingga rumput tak tumbuh di lingkungan itu, rumput yang merupakan nafas kehidupan hewan ternak keluarga miskin itu.



“Pak saya pernah liat di tempat saudara saya, kambing-kambing disana menggunakan ampas tahu untuk makanannya, mereka membeli murah dari pabrik tahu loh pak” kata pak Surip. Jawab Tijaya menyela dengan nada semangat dan suara seraknya yang khas “bagus tuh pak, kita bisa tiru itu kita beli saja tahu di pabrik depan desa kita ini, nanti kita kasih tau pak Josep”. Keeokan harinya Pak Josep beserta kawanannya itu pergi bersama ke perusahaan tua yang cukup terkenal dengan omset puluhan juta per bulan dengan karyawan yang jumlahnya puluhan itu. Setiap masalah yang ada dikandang itu mulai terselesaikan, pakan yang di kwatirkannya dulu sekarang sudah terselesaikan, hari demi hari penghasilan mulai datang mengisi keluarga miskin itu walaupun tak sebesar omset pabrik tahu yang tua itu, jumlah hewan ternak yang semakin banyak mengisi kandang itu.

“Pak saya khwatir dengan anak saya Rini, dia sakit panas sudah 3 hari” kata pak Sumirep ketika semua berfokus pada kandang kambing itu.

“Lho ko bisa gitu pak, knapa bapak gak bawa kerumah sakit” jawab pak Surip

“Saya mau bawa dia pak, tapi saya lum cukup uang” kata pak Sumirep

“Bapak ini gimana!! , knapa bapak gak bilang ke kita, apa gunanya kelompok ini kalau kita masih susah !!!” kata pak Josep dengan nada yang marah dan lemah


“Yaudah kita bawa aja anak bapak Rini ke puskesmas dulu, takut ada apa-apa dengan dia, kasihan anak bapak” jawab pak Tijaya. Akhirnya mereka pergi ke gubuk tua milik pak Sumirep, sesampai disana didapatnya tubuh kurus anak perempuan berumur 5 tahun yang terlihat tulang rusuknya tertidur lelap di tempat tidur kumuh yang sepreinya pun sudah 1 tahun tak dicuci.

Akhirnya Rini pun dibawa ke puskesmas terdekat dan diperiksa oleh seorang dokter perempuan cantik dengan kulitnya yang putih. Setelah diperiksa rini pun dibawa pulang ke gubuk tua itu dan di tidurkannya kembali, hari berganti sangat cepat bagaikan maling yang menyusuk dimalam hari yang tak terlihat gerak-geriknya. Pagi hari setelah meminum kopi pahit di gelas kaca sejak 2 tahun lalu, pak Sumirep melihat anak tercintanya masih tertidur lelap dengan panas badannya seperti kemarin malam dan meninggalkannya untuk pergi ke kandang ternak milik kelompoknya itu, seperti biasa pak Sumirep selalu ditugaskan untuk membeli ampas tahu sebanyak 25 karung dengan mendorong gerobak buatan kelompoknya, waktu yang di habiskan untuk membeli karung itu selama 3 jam, setelah selesai tugasnya itu seperti biasa pak Sumire selalu pulang ke rumah untuk santap siang, setelah sampai di rumah dilihatnya Rini masih tertidur lelap.

Tiba-tiba istrinya datang dengan terburu-buru” Pak si Rini gak bangun-bangun dari tadi”

Jawab pak Sumirep” masa si?? Kenapa kamu gak bilang?” di pegangnya tubuh mungil itu, tak terlihat gerak-gerik kehidupan di dalamnya, pak Sumirep lari secepat kilat mendatangi teman kelompoknya itu” Pak si Rini belum bangun dari kemarin malam”

Saut pak Jayardi dengan nada terburu-buru “Hayolah kita ke sana secepatnya, takut kenapa-kenapa!!!”

Akhirnya mereka semua berjalan secepatnya menghampiri Rini yang terbaring termasuk dengan pak Josep yang menggunakan tongkatnya, ketika sesampainya di gubuk tua diperiksanya Rini dengan tubuhnya yang semakin panas, sehingga anak itu dibawanya ke rumah sakit yang cukup jauh dari kampung itu waktu yang di tempuh selama 2 jam untuk ke kota , setelah sesampainya disana dibawanya ke ruang darurat. Waktu terasa lama sekali, hati yang berdebar-debar dengan keringat yang menetes terus menerus, hati pun semakin berdebar menunggu sang dokter keluar dari ruangan yang berbau aroma obat yang menusuk itu.

“dengan bapak Rini” kata dokter itu

“Ya dengan saya dok, gimana anak saya Rini, gimana dok???” Jawab pak Sumirep dengan sangat cemas

“Mohon maaf pak, saya tidak bisa membantu, anak bapa sudah meninggal karena penyakit yang sudah kronis, penyakit yang terjadi akibat si tubuh anak kurang gizi pak” jawab pak dokter. Dengan gemetar dan air mata yang tiba-tiba mengalir deras dari ke dua orang tua Rini membasahi pipi mereka maklum saja Rini yang merupakan anak satu-satunya. “ Sudah pak bu kita ikhlaskan saja kepergiannya Rini mungkin dia sudah tenang di sisiNya” jawab pak Josep



Keesokan harinya almarhum Rini di kubur di belakang gubuk tua milik pak Sumirep itu, hari demi hari dilalui dengan pikiran yang selalu teringat dengan sikap anaknya dulu yang selalu manja ketika sang ayah tercinta pulang dari tempat kerjanya, setelah berjalan lebih dari 2 minggu keadaan rumah itu telah bisa menerima kepergian anaknya, pak Sumirep bekerja kembali seperti biasa ke pabrik tahu untuk membeli ampas tahu. 1 tahun kemudian barulah terlihat perkembangan usaha peternakkan yang bermodalkan hanya proposal sederhana, perkembangan yang sangat cepat yang tak terpikirkan oleh 5 orang miskin tersebut, dengan ketekunan yang luar biasa itu membuahkan hasil dengan majunya usaha bersama tersebut, pelanggan setia yang membeli susu kambing untuk kesehatan keluarganya begitupun kotoran-kotoran kambing sebagai pupuk bagi para petani sekitar kampung itu.
Kandang yang mulai terisi mencapai ratusan akibat kelahiran induk-induk sang betina, dengan perkembangan pesat itu di bukanya 5 cabang di desa yang berbeda yang di ketuai masing-masing oleh 5 orang miskin dahulu, yang sekarang telah memperkerjakan warga sekitar mencapai 20 orang setiap cabangnya, sehingga membuka lapangan kerja bagi desa tersebut.


“Inilah hasil perjuangan kita, perjuangan yang luar biasa” kata pak Josep

“iya pak, pengorbanan kita yang dahulu sekarang telah terasa hasilnya” kata pak Sumirep dengan antusias

“memang hidup kita ini bukan hanya untuk kita saja pak, tetapi untuk saudara-saudara kita yang tidak mampu, sehingga kita harus ambil bagian untuk kemajuan kampung ini” kata pak Yosep

“Saya sangat senang sekali, dengan modal tekad dan berdoa hasilnya luar biasa ya pak, kita harus berkarya lagi ni pak kayanya” jawab pak Tijaya, semua tertawa haru mengingat perjuangan dahulu.

“iyah pak hati saya jadi semakin sadar bahwa keberhasilan itu bukan untuk kita sendiri ya pak,melainkan untuk orang lain juga” kata pak Baskoro

“Ayo pak, kita lanjutkan lagi kerja keras kita untuk pembangunan negara kita tercinta” kata pak Surip dengan wajahnya yang penuh pengharapan besar

2 bulan kemudian di kamar tidur seorang pejuang dengan kaki yang hilang akibat bertempur dahulu, terlihat bapak Josep tidur dengan badan yang semakin lemah, maklum saja umurnya yang sudah tua dengan semangat kerja keras untuk pembangunan kampungnya itu.
Waktu demi waktu yang telah berganti tepat pukul 00.00 tanggal 17 agustus hari kemerdekaan negara ini, pak tua itu meninggal untuk selamanya, ia meninggalkan tubuhnya yang rapuh, ia meninggalkan kandang dimana ia berusaha untuk memajukan tanah dimana ia tinggal, ia meninggalkan hasil perjuangannya dulu sampai sekarang yang tak pernah berhenti walaupun keterbatasan tubuhnya, dengan tongkat kesayangan yang membantu dia melangkah. Pengorbanan sang pejuang sejati yang akan selalu berguna untuk menghidupi puluhan bahkan ratusan keluarga nanti, sekarang tubuh itu telah terbaring di tanah merah dengan khiasan batu yang bertuliskan namanya.


Ditulis oleh : Arlius

Saya tidak berpengalaman untuk membuat cerpen, jika ada kata yang tidak sesuai mohon dimaklumkan. Semoga pesannya sampai ke hati anda. MAri Bangun Bangsa !!

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons